Terbaru
Recent Articles

Kecerdasan Intelektual dan kecerdasan Emosional

Contoh Pertama 

Pernah suatu saat di Indonesia terdapat Sebuah Lembaga yang memproduksi pesawat terbang, tentu ini adalah hasil intelektualitas yang sangat luar biasa. Pimpinan Lembaga yang memproduksi pesawat terbang ini berkeinginan menjual pesawatnya ke Petronas Malaysia. Kita tahu Petronas adalah Perusahaan minyak yang terkenal yang dimiliki oleh Malaysia, kemudian pimpinannya datang dan ditemani oleh seorang Asistennya yang mempunyai Intelegensi yang sangat tinggi yang mungkin IQ nya sudah diatas 120 dengan semua gelar di belakang dan didepan kartu namanya. Sebelum mereka mengajukan proposal dan melakukan negoisasi harga , orang indonesia ini di undang untuk makan malam oleh Bos Petronas Malaysia, mereka diajak untuk menikmati hidangan makan malam yang serba nikmat, tentu saja ini merupakan hal yang wajar di dunia bisnis sebelum mereka masuk dalam dunia bisnis yang sesungguhnya. 
Setelah mereka bincang-bincang santai sambil menikmati makan malam, sang pembeli yaitu Bos Petronas Malaysia ia ingin memamerkan produk-produk barang antik koleksi miliknya kepada orang Indonesia ini, mulai dari Guci cina dan berbagai barang antik yang sudah dimilikinya sebelum ia menjabat sebagai CO di Petronas itu. Ia jalan-jalan kemudian ia tunjukkan kepada orang indonesia ini barang-barang antik dari Cinta, Dinasti Ming dan berbagai barang antik koleksinya. Dari pabrik pesawat terbang kita tentu senang dan bangga sekali melihat koleksi barang antik itu. Dengan antusias bos Petronas itu menunjukkan barang antik koleksinya, dan orang indonesia karena berkeinginan menjual pesawatnya tentu saja ia menangguk angguk untuk memberikan penghargaan, kemudian orang malaysia ini berkata
"How do you thing sir" lalu orang indonesia ini menjawab "oh sure, very good, fantastic" wah tentu saja senang sekali Bos malaysia itu mendengar jawaban dari orang indonesia tadi. Kemudian dia berkeliling lagi
"How about this" Wow "That`s Beautiful, Exelent, very nice" wah semakin berbunga-bunga hati orang malaysia ini. Namun seorang asistennya yang mempunya title banyak tadi, kebetulan beliau seorang Doktor dilihatnya hanya diam saja, kemudia ia ditanya oleh Bosnya tadi
"How Do You Thing" oh ini bagus sekali Tuan, sangat bagus dan perlu Tuan ketahui bahwa di Jakarta tepatnya di Jln. Surabaya barang-barang antik seperti ini banyak dan murah-murah harganya Tuan.

Anda bisa membayangkan bagaimana reaksi Bos Petronas Malaysia ini mendengar perkataan Asistennya tersebut, ia sangat marah sekali tapi ia menyimpannya dalam hati, dan akhirnya CO dari Petronas ini tersinggung dan tidak jadi beli pesawat.

Kesimpulan dari contoh diatas adalah "Kecerdasan Intelektual (IQ) saja tidak cukup masih dibutuhkan apa yang disebut dengan Kecerdasan Emosional (EQ). jadi Kecerdasan Emosional adalah kemampuan untuk merasakan perasaan orang lain dan kemudian menjadikan pengetahuan itu sebagai informasi penting untuk mengambil tindakan.

Sekarang mari kita tanya pada diri kita masing-masing, bagaimana… apakah kita pernah berbuat seperti itu.. ?

Contoh kedua

Mungkin kita masih ingat dulu, sekitar 20 tahun yang lalu ketika kita naik kereta api jurusan Jakarta - Surabaya atau mungkin Jakarta - Bandung. Kalau kita haus saat itu kita bingung sekali dimana kita akan minum, pasti kita akan melihat di stasiun kereta api atau di dalam gerbong kereta api orang-orang yang mengangkat minuman kemudian mengatakan "Teh-teh… Kopi-kopi.." semua orang menjual teh dan kopi, sehingga kalau kita ingin meminum air putih tentu akan merasakan kesulitan karena tak ada orang yang menjual air putih saja, karena air putih saat itu gratis tapi dengan catatan harus minum di warung dan diwarung tentu saja harus makan terlebih dahulu, baik makan nasi atau makan gorengan lainya baru diberikan air minum gratis di dalam teko. Dan itu terjadi Bertahun-tahun di Indonesia mungkin di Negara-negara luar saat itu.

Disaat itu ada seorang yang mampu merasakan perasaan kesulitan tersebut, ia mampu melihat kesulitan itu, betapa sulitnya jika orang dalam perjalanan dalam keadaan haus. Kemudian ia masukkan air putih itu kedalam sebuah botol dan kemudian air minum dalam botol itu dijual. Anda tahu harganya..? harganya lebih mahal dari pada harga bensin saat itu.

Kita tentu tahu saat ini, bukan lagi puluhan, ratusan bahkan kini Ribuan perusahaan yang menjual air mineral dalam bentuk botol ini.


Kesimpulannya " Inilah yang disebut Kreatifitas, keberanian mengambil Resiko, ini menyangkut tentang Komitmen, Tanggung jawab, Visi, Kemampuan merasakan, Kemampuan membaca situasi, inisiatif, Sensitif, Merasakan & Melihat dengan mata hati.

Bagaimana semua ini bisa diatasi, ini adalah kembali contoh KECERDASAN EMOSIONAL (EQ).

Kecerdasan Emosional menunjukkan bukti bahwa ia begitu berperan penting didalam keberhasilan
kehidupan
.

Yang menjadi pertanyaan kita sekarang "bagaimana dengan Sistem Pendidikan kita di Indonesia sekarang…? Kecerdasan Emosional.. apakah diajarkan di SD, SMP, SMA atau bahkan di Bangku kuliah, yang diajarkan umumnya adalah hanya Intelektualitas. IQ nya harus 100 dengan IP 4.00.

Sekarang mari kita lihat kenyataanya, masih ingatkah kita dengan teman-teman yang menjadi bintang-bintang kelas waktu di SMP, SMA atau di Kuliah dulu, apakah mereka menjadi orang-orang yang sukses diatas rata-rata ? atau bahkan mereka kini menjadi orang yang biasa ? atau bahkan banyak yang gagal.

Hal ini diselidiki disebuah lembaga, yang mendirikan data Bank raksasa yang diberi nama Emotion Quotient Inventory (EQI ) yaitu sebuah lembaga yang mengumpulkan data-data orang-orang yang sukses dimuka Bumi. Hasilnya sungguh tak terbantahkan dan tidak bisa lagi dipungkiri, dikatakan bahwa Kecerdasan Intelektual (IQ) itu rata-rata hanya 6 % yang membawa keberhasilan bahkan Maksimum hanya 20 %.

Kecerdasan Intelektual

Hanya berperan
6 %
Dan Maksimal 20 %
Dalam meraih keberhasilan

Lantas bagaimana dengan kemampuan Intelektual dan Emosional kita sementara ini, mana yang lebih kita tekankan pada anak-anak kita. Anak-anak kita yang selama ini kita dorong supaya mendapatkan rangking yang tinggi, IP yang tinggi, selama ini anak-anak kita dorong agar memiliki Intelektualitas (IQ) tinggi namun mari kita lihat ternyata keberhasilan itu tidak ditentukan hanya oleh Intelektualitas (IQ) semata.

Contoh ketiga 

Kejadian ini terjadi di Airport Soekarno Hatta, pada saat itu pesawat terakhir akan berangkat dengan jalur penerbangan ke Luar Negeri, namun tiba-tiba diumumkan bahwa pesawat ditunda keberangkatannya karena ada kerusakan mesin. Semua penumpang mengeluh dengan nafas panjang, Arghh…… hanya itu yang bisa mereka lakukan dan mereka tunggu 1 jam, tiba-tiba petugas di Airport mengatakan lagi bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi bukan saja ditunda keberangkatannya tetapi gagal berangkat malam ini dan akan berangkat esok pagi. Diantara penumpang tersebut banyak Pejabat, banyak Bisnisman, dimana besok adalah pertemuan penting yang justru tidak bisa ditunda-tunda.

Banyak sekali yang marah dan salah seorang dari Pejabat marah, ia katakan "Anda tahu siapa saya… anda tahu.. pimpinan andapun bias saya geser dari perusahaan ini, kerugian yang akan saya alamin ini akan merugikan ratusan milyar rupiah dan perusahaan anda akan kami tuntut. Lalu ia menunjukkan Kontrak kerjanya, MOU dan macam-macam surat pentingnya, ia sangat marah sekali. Tentu saja petugas airport ini mengalami Stress yang sangat luar biasa sekali, ia ketakutan, badanya gemetar. Akhirnya mau tidak mau para penumpang tadi di inapkan di Transit Hotel sebelah bandara Soekarno Hatta.

Namun ada satu orang yang berusia setengah baya, ia datang degnan tersenyum, sungguh luar biasa. Petugas Airport tersebut bingung "loh.. kog bapak tersenyum dan mengatakan ini luar biasa sekali sedang yang lain marah-marah" orang setengah baya ini menjawab dengan tersenyum "Bayangkan jika pesawat ini tetap diberangkatkan, berapa korban jiwa yang akan terjadi, karena bisa saja pesawat ini akan mengalami kerusakan mesin di atas udara" atau pesawat ini akan jatuh seperti yang terjadi baru-baru ini di Medan" saya kira ini adalah hal yang wajar dan baisa. "Bapak tidak marah ?" petugas airport itu bertanya

"Saya sebenarnya ingin marah, tapi untuk apa saya marah, ini memang suatu kenyataan dan saya juga punya urusan bisnis yang sangat besar, dan mengalami kerugian yang cukup besar bila ditunda, tapi mau dibilang apa, saya harus ikhlas, karena ini sudah kenyataan yang dialami.

Petugas airport itu hanya diam tertunduk, ia heran melihat orang yang sangat bijaksana. Orang setengah baya ini kemudian berkata "Saya tahu disitu banyak pesawat, saya tahu di hotel itu banyak orang yang marah karena berfikiran mengapa banyak pesawat yang nangkring, mengapa pesawat itu tidak segera diberangkatkan". Tapi saya tahu ini adalah keputusan-Nya dan ini adalah kenyataan, ya sudah saya inkhlas kita berdoa saja semoga Bisnis saya bisa berhasil dan besok pagi pesawat itu sudah baik dan bisa berangkat. Selamat malam…

Sebelum berangkat menuju hotel orang setengah baya itu dipanggil oleh petugas Airport

"Mari kesini sebentar pak" orang setengah baya itu belakangan berangkat menuju hotel tempat menginap.

"Kenapa ?"
Sebenarnya masih ada informasi yang sangat penting, ada satu sheet kosong ke negara yang sama, hanya akan terlambat beberapa jam karena harus memutar lebih kurang 200 - 300 mil dan akan tiba tengah malam nanti, kalau bapak mau silahkan bapak masuk ke ruang tunggu disebelah sana.

Akhirnya Orang setengah baya itu pergi dan kemudian ia berangkat ke negara tujuannya dan bisnisnya berjalan dengan lancar sedangkan Pejabat yang marah-marah tadi setiap ada pelayan yang mengantarkan makanan kepadanya dimarahi dan diceramahi.

Mari kita lihat Hikmah apa yang bisa diambil dari kisah ini

Ini semua menunjukkan bahwa semua Kemampuan Mengendalikan Emosi membuat bisnis jauh lebih
sukses
.
Kembali permasalah ini bukan lagi soal Kecerdasan Intelektual (IQ) tapi Kecerdasan Emosional (EQ).

Jadi Kecerdasan Emosional (EQ) adalah kemampuan untuk mengendalikan emosi, kemampuan untuk menguasai diri agar ia tetap bisa mengambil keputusan dengan tenang.

Kesimpulannya "Tidak cukup hanya dengan Kecerdasan Intelektual (IQ) yang kita miliki dan tidak cukup hanya Kecerdasan Intelektual (IQ) yang diajarkan kepada anak-anak jadi dibutuhkan satu kecerdasan lagi yang disebut Kecerdasan Emosional (EQ).

Nah sekarang masih ada lagi "Bagaimana Kecerdasan Emosional (EQ) ini bekerja

Untuk membahas masalah ini akan saya sambung di tulisan berikutnya :)

Tulisan diatas saya tulis dari hasil mendengarkan ceramah tentang IQ - EQ dan SQ yang dibawakan oleh Ary Ginanjar dkk.

Fahrul Rozy @ 2005
http://lelakibiasa.multiply.com/journal/item/74 
Share and Enjoy:

0 komentar for this post

Leave a reply

We will keep You Updated...
Sign up to receive breaking news
as well as receive other site updates!
Subscribe via RSS Feed subscribe to feeds
Sponsors
Template By SpicyTrickS.comSpicytricks.comspicytricks.com
Template By SpicyTrickS.comspicytricks.comSpicytricks.com
Popular Posts
Recent
Connect with Facebook
Sponsors
Blog Archives
Recent Comments
Tag Cloud